Apakah mungkin panitia menjual hewan kurban sementara hewannya masih proses pemesanan dengan pemasok hewan kurban?

Jawab:

Bismillah adalah shalatu adalah salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara prinsip dalam transaksi jual beli, tidak ada yang bisa digunakan menjual barang yang tidak dia miliki, kecuali jika dia mendapatkan izin dari pemilik.

Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

“Aku yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku sampaikan, ‘Ada orang yang datangiku, memintaku untuk menyediakan barang yang tidak aku miliki. Bolehkah saya belikan barang itu dipasar, kemudian saya jual barang itu kuat? ‘

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad 15705, Nasai 4630, Abu Daud 3505, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Hakim pernah mengatakan,

نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَبِيعَ مَا لَيْسَ عِنْدِى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melarangku untuk menjual barang yang tidak aku miliki.” (HR. Turmudzi 1280 dan dishahihkan al-Albani).

Saat membawakan hadis ini, Turmudzi menyatakan,

والعمل على هذا الحديث عند أكثر أهل العلم كرهوا أن يبيع الرجل ما ليس عنده

“Mayoritas ulama mengamalkan hadis ini. Mereka tidak bisa menjual apa yang tidak dia miliki. ” (Sunan at-Turmudzi, 5/142)

Berdasarkan keterangan di atas, koleksi panci sebelum sapi, berarti dia telah di atas.

Sohibul Qurban Diminta Bayar DP

Terkadang, sohibul qurban yang beli, dia diminta untuk membayar DP dulu. Setelah sapi ada, baru sisa dilunasi. Bolehkah transaksi semacam ini?

Ketika penjual belum memiliki barang, berarti posisi barang terutang atas dirinya. Dan kompilasi pembeli belum untuk pembayaran, maka uang juga terutangatas. Jika mereka bertransakasi, maka yang terjadi adalah membeli utang dengan Utang. Dan berbagai bentuk transaksi yang terlarang adalah jual beli Utang dengan Utang. Dasar larangan ini adalah konsensus (ijma ‘) ulama yang bertransaksi al-Kali’ bil Kali – jual beli utang dengan utang – hukumnnya terlarang.

Imam as-Syafii dalam kitabnya al-Umm pernah membahas hukum menjual barang yang masih dalam tanggungan. Beliau mengatakan,

والمسلمون ينهون عن بيع الدين بالدين

“Kaum muslimin membersihkan untuk membeli utang dengan utang.” (Al-Umm, 4/30)

Pernyataan perjanjian ulama,

Ibnu Qudamah menukil keterangan ijma ‘ulama dari Ibnul Mundzir,

قال ابن المنذر: أجمع أهل العلم على أن بيع الدين بالدين لا يجوز. وقال أحمد: إنما هو إجماع

Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama mengusulkan bahwa jual beli utang dengan utang tidak boleh. Imam Ahmad mengatakan, “Ulama menggunakan dalam masalah ini.” (Al-Mughni, 4/186).

Ijma ‘inilah yang menjadi dasar kita untuk menyatakan bahwa menjual utang dengan utang hukumnya terlarang.

Mengangkat an-Nawawi dalam al-Majmu ‘,

لا يجوز بيع نسيئة بنسيئه بأن يقول بعني ثوبا في ذمتي بصفته كذا إلى شهر كذا بدينار مؤجل إلى وقت كذا فيقول telah mengikuti وهذا فاسد بلا خلاف

Tidak boleh menjual kewajiban dengan Utang. Bentuknya ada pembeli mengatakan,

“Tolong jual dengan kain ini untuk mengetahui, dan tolong serahkan bulan sekian, dengan harga 1 dinar dari kredit sampai tanggal sekian.”

Kemudian penjual menerimanya.

Transaksi ini bersifat batal, tanpa ada perbedaan pendapat ulama. (al-Majmu ‘Syarh Muhadzab, 9/400).

Panitia tidak memiliki sapi, baru pesan ke pemasok, hingga ada 7 orang jamaah yang membeli sapi itu.

Transaksi ini hukumnya dilarang, karena termasuk jual utang dengan Utang.

Solusi:

Ada beberapa alternatif untuk masalah di atas,

Pertama, panitia menjadi wakil

Panitia bisa menjadi dari pemilik sapi untuk menjualkan ke jamaah. Dan selanjutnya panitia berhak menguasai biaya atas jasanya. Nilai upah sesuai kesepakatan antara pemilik sapi dengan panitia.

Ibnu Abbas mengatakan,

لاَ بَأْسَ أَنْ يَقُولَ: بِعْ هَذَا الثَّوْبَ ، فَمَا زَادَ عَلَى كَذَا وَكَذَا ، فَهُوَ لَكَ

“Tidak masalah pemilik barang mengatakan, ‘Jualkan baju ini, jika harganya lebih dari sekian, tolong beruang.’ (HR. Bukhari, 3/92).

Bisa juga panitia menjadi wakil bagi para sohibul qurban untuk mencarikan hewan. Dan upah untuk panitia dari iuran sohibul qurban.

Kedua, menggunakan jabatan al-Wa’du bis Syira ‘

Prinsipnya adalah, kompilasi sapi belum dimiliki, panitia tidak boleh menjual sapi itu. Meskipun perlu sebatas tawaran. Ketika sapi sudah dimiliki panitia, baru diangkat akadnya.

Demikian, Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Advertisements